Kamis, 25 Agustus 2016

Jika Kamu Serius Mencintaiku, Silahkan Temui Orang Tuaku......

artikel ini saya ambil dari  hijab elmina ,,heheee. Bukan maksud untuk plagiat melainkan karena saya jatuh cinta dengan artikel-artikelnya  yang menyudut kepada inspirasi muslimah , so,, tidak ada salahnya saya share kembali ilmu tersebut.
sumber : elmina.id
by Agus Ariwibowo


Akan tiba suatu zaman bagi manusia, barnagsiapa di antara mereka yang bersabar berpegang teguh pada agamanya, ia ibarat menggenggam bara api(HR. At Tirmidzi )

Era hari ini, dimana aktivitas pacaran sudah menjadi budaya anak muda maka menjadi suatu hal sulit untuk menolak cinta seseorang apalagi bagi seorang wanita yang juga punya rasa cinta pada seorang laki-laki. Terkadang muncul beragam ketakutan dan kecemasan, takut jika menolak nanti akan menyakiti hatinya, memutus hubungan silaturahim, takut jadi karma nanti nggak ada lagi yang mau, bahkan takut kehilangan si dia dan menjadi milik orang lain.
Hampir 24 jam dalam sehari kita disuguhkan beragam macam kampanye tentang ajakan untuk pacaran baik yang secara terang-terangan ataupun hanya tenang-tenangan. Melalui musik, tayangan sinetron dan film televisi, melalui media sosial bahkan portal-portal online yang sengaja menyuguhkan tips-tips membangun hubungan yang baik dengan sang pacar yah mereka mengajarkan bagaimana agar sukses bermaksiat, nauzubillahi min zalik.

Rasulullah SAW menyampaikan pesan 14 abad yang lalu, akan tiba masa di mana memegang teguh agama ibarat menggenggam bara api, itulah kiasan untuk menggambarkan betapa susahnya untuk menjadi pribadi yang taat pada Allah SWT, selalu berpegang pada perintah dan larangan Al-quran serta menjalankan apa-apa yang Rasulullah contohkan serta meninggalkan apa-apa yang Rasulullah larang.

Salah satu hal yang menjadi ujian bagi wanita apalagi bagi laki-laki adalah tentang hubungan laki-laki dan wanita. Di saat teman sekeliling kita sudah punya pacarnya, di mana setiap malam minggu ada yang jemput untuk ngajak jalan-jalan sementara kita masih sendiri ditambah lagi dengan berbagai ledekan seperti jomblo ngenes , nggak laku dan sebagainya tentu menjadi tantangan tersendiri.

Kata cinta, sayang, kasih, perhatian memang menjadi ujian tersendiri bagi seorang wanita. Jika seorang laki-laki datang pada seorang wanita dengan penuh lemah lembut, menyampaikan suara hatinya kalau dia mencintaimu maka berhati-hatilah jangan mudah terpedaya dan terpesona. Ingat, laki-laki hebat bukan laki-laki yang pandai menebar pesona dan jago merangkai kata yang indah, akan tetapi laki-laki hebat adalah mereka yang tau bagaimana cara menghormati wanita, mengerti bagaimana menghargai wanita  dan tau bagaimana seharusnya mencinta.

Sebagai filternya seorang wanita tentu harus memiliki komitmen yang kuat untuk tidak melakukan aktivitas pacaran karena memang itu adalah pilihan sadarnya sebagai bentuk ketaatan dan ketakwaan pada Allah SWT. Sejatinya cinta yang tulus ikhlas dari hati seorang laki-laki memiliki tabiat menjaga dan melingungi wanita yang dicintainya termasuk menjaga dan melindungi dari dosa maksiat zina hati, zina mata dan beragam maksiat lainnya. Oleh karena itu laki-laki yang benar-benar serius mencintaimu maka ia takkan mudah mengungkapkan cintanya sebelum ia sadar kalau dirinya sudah siap untuk menikah. So, jika ada yang mengatakan cinta padamu wahai shalihat semua jawablah dengan penuh kemantapan Jika Benar Kamu Serius Mencintaiku, Silakan Temui Orang Tuakudari caranya menanggapi pernyataanmu maka kamu akan bisa membedakan mana-mana yang benar-benar serius mencintai dan mana yang hanya berani katakan cinta.

Rabu, 24 Agustus 2016

Kisah Inspiratif Kehidupan

Di Balik Suami yang Zuhud, Ada Istri yang Zuhud

PAK AR Fachrudin*

*Di balik pria terhormat, ada wanita terhormat. Di balik pria saleh, ada wanita saleh. Di balik pria yang zuhud, ada wanita zuhud.*

Bayangkan seandainya Pak AR punya istri wanita seleb. Niscaya Pak AR akan pusing tujuh keliling karena permintaan istrinya pasti macam-macam. Ingin tas LV, dompet Hermes, sepatu Gucci, busana-busana branded model mutakhir, dan rumah real estate. Kebayang Pak AR akan pusing memikirkan keinginan istrinya. Karena pusing, Pak AR pun tidak akan tenang. Hidupnya kemrungsung dan sulit tidur. Mana mungkin Pak AR yang hidup hanya dari gaji pegawai negeri sipil (PNS) dengan tujuh anak mau memenuhi keinginan istrinya yang seleb itu?
Beruntung. Hal itu tak terjadi pada Pak AR. Allah sudah memasangkan Pak AR dengan wanita yang hebat, *Siti Qomariyah*.
*Bu AR – Siti Qomariyah* -- adalah wanita yang mau hidup sangat sederhana asal suaminya memberi nafkah yang halal. Bahkan bila nafkah dari Pak AR tidak mencukupi, Bu AR pun siap membantu mengatasinya dengan berdagang apa saja yang bisa dilakukannya seperti dagang ikan di pasar, dagang hasil bumi, dan lain-lain untuk mencukupi kebutuhan rumah tangganya.

Bu AR tak pernah mengeluh apa pun yang dibawa Pak AR ke rumah untuk nafkah keluarganya. Bahkan ketika Pak AR pulang tak membawa apa pun, Bu AR tetap menyambutnya penuh rasa syukur karena Pak AR selamat dalam perjalanan hingga sampai ke rumah.
Bu AR selalu mendukung kegiatan dakwah Pak AR meski tak menghasilkan uang. Bu AR pun mendukung prinsip da’wah yang dilakukan Pak AR. *"Dakwah harus ikhlas dan tidak boleh menerima amplop”*kata Pak AR. *Jika mau menerima amplop, takut menjadi kebiasaan, dan akhirnya mempengaruhi niat dakwah. Dan itu sangat berbahaya bagi seorang da’i yang berniat menyebarkan pesan-pesan Allah dengan ikhlas*. Itulah sebabnya, meski laris diundang ceramah, Pak AR tetap miskin. Karena ceramahnya tak menghasilkan uang.

Beliau hanya hidup dari gaji PNS. Jika beliau dipaksa menerima amplop dan kemudian mau menerimanya (karena tidak enak pada panitia), sesampainya di rumah amplop itu langsung diberikan kepada kantor Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah. Pak AR minta agar uang dari amplop itu dibagikan kepada karyawan-krayawan kecil di kantor PP yang hidupnya kekurangan
.
Kami, anak-anak Asrama Yasma Putera, Masjid Syuhada, Yogya juga pernah kebagian amplop Pak AR.
Suatu ketika Pak AR diundang ceramah di TVRI Yogya. Kami mengantarkan Pak AR ke stasiun TVRI Yogya di Jalan Magelang. Usai ceramah, Pak AR menerima bingkisan dan amplop. Dalam perjalanan pulang, bingkisan dan amplop itu diberikan kepada kami, anak-anak asrama Yasma. Pak AR tak menyisakan uang itu sedikit pun untuk dibawa pulang ke rumahnya.

Jika akan berdakwah di tempat yang memakan waktu lebih dari satu hari, Pak AR selalu memanggil Bu Qom dan anak-anaknya. *“Bapak mau pergi berdakwah di tempat yang jauh. Mungkin tiga hari tidak pulang. Bapak sudah menitipkan kalian kepada Allah. Insya Allah, Yang Maha Kuasa akan menjaga Ibu dan anak-anak,”* pesan Pak AR setiap mau bepergian berdakwah untuk waktu yang lama.

Hal seperti itu, pergi berdakwah berhari-hari, sudah biasa terjadi. Dan keluarga Pak AR pun memakluminya. Bu Qom pun tak pernah menanyakan apakah ada amplop atau bingkisan dari pengundang ceramah tadi. Padahal, tempat ceramah Pak AR kadang jauh sekali, di pelosok desa di Kabupaten Purworejo, Kebumen, bahkan Purwokerto. Semua itu dijalani Pak AR dengan ikhlas meski harus menggowes sepeda ontel puluhan kilometer. Melihat kondisi seperti itulah, seorang saudagar kaya, Pak Prawiroyuwono kasihan kepada Pak AR dan membelikan sepeda motor Yamaha 70 CC warna oranye untuk mempermudah mobilitas Pak AR dalam berdakwah. Sepeda motor itulah yang dipakai Pak AR untuk berdakwah dan keperluan sehari-hari sampai beliau wafat. Jadi, motor Yamaha 70 CC warna oranye yang sering dikira milik satu-satunya Pak AR itu, ternyata pemberian orang. Pak AR tak sanggup membeli motor itu.



Meski miskin, Pak AR tidak pernah tertarik dengan iming-iming harta.Sebagai pimpinan Muhammadiyah, beliau sering diberi uang jutaan oleh para pejabat dan pengusaha. Orang-orang kaya itu nitip uang kepada Pak AR untuk disampaikan kepada Muhammadiyah. Jumlahnya kadang puluhan, bahkan ratusan juta rupiah.
Sampai di rumah, uang itu segera disampaikan kepada Muhammadiyah dan fakir miskin di sekitarnya tanpa sisa. Sampai-sampai Fauzi, putra bungsunya, pernah nyeletuk: *“talang kok ora teles”* (talang kok tidak basah). *“Yo ben, wong iki talang plastik,”* timpal Pak AR (Biar saja, wong ini talang plastik). Itulah Pak AR, memilih hidup miskin padahal punya kesempatan untuk hidup kaya.

Kenapa Pak AR memilih hidup miskin? Beliau pernah bercerita dalam kultum di rumahnya. *“Di hati manusia hanya ada satu cinta. Cinta kepada Allah. Jika cinta kepada Allah ini tercemari oleh cinta kepada dunia, maka Allah akan cemburu,”* kata Pak AR. *Jika hamba mencintai Allah dan Allah mencintai hambaNya, maka Allah tak mau cinta hamba kepadaNya disaingi oleh cinta hamba kepada selain DIRINya. Allah itu Maha Pencemburu!,”* kata Pak AR.
Dalam kebersamaan hidup dengan Pak AR, Satu-satunya hal yang sangat disesali Bu Qom terhadap dirinya sendiri adalah ketika beliau menanyakan tentang perkembangan rumah yang dicicilnya. *“Pak bagaimana perkembangan rumah kita?,”* kata Bu Qom suatu ketika kepada Pak AR yang baru datang dari ceramah di luar kota.
Pak AR pun terdiam. Keriangan di wajahnya kelihatan pudar. *“Bu sabar ya. Soal rumah jangan dipikirkan lagi. Developernya lari. Tak usah disesali, Allah akan mengganti rumah kita dengan rumah yang lebih baik di sorga nanti,”* jawab Pak AR lirih.
Bu Qom merasa menyesal mempertanyakan soal rumah tersebut. *“Saya sangat menyesal mempertanyakan rumah itu kepada Pak AR. Padahal Pak AR masih capai, baru datang dari luar kota,”* kata Bu Qom menyesali munculnya pertanyaan itu. Sampai bertahun-tahun kemudian, setelah Pak AR wafat, Bu Qom masih menceritakan peyesalannya soal pertanyaan rumah itu. Mungkin karena penyesalan tersebut, Bu Qom meneruskan pilihan hidup miskin tanpa memiliki rumah
.
Setelah Pak AR wafat dan rumah Cik Ditiro 19A diberikan kembali oleh keluarga Pak AR kepada Muhammadiyah, Muhammadiyah mau memberikan tanah seluas 1000 meter persegi dekat Universitas Muhammadiyah Yogya. Muhammadiyah juga akan membiayai pembangunan rumah keluarga Pak AR karena balas jasa atas kepemimpinan Pak AR yang membesarkan Muhammadiyah selama 22 tahun. Tapi, apa kata Bu AR?
*“Tidak usahlah. Muhammadiyah lebih membutuhkan tanah itu ketimbang keluarga saya,”* kata Bu AR. Bu AR menolak dengan halus pemberian tanah dari Muhammadiyah tersebut. Dan alkhamdulillah, sampai Bu AR wafat, rumah Pak AR dan Bu Qom ternyata tak ada di dunia. Rumah mereka ada di sorga!
*Di balik suami yang zuhud, ada istri yang zuhud*.